Tulang orang mati adalah istilah yang sudah dikenal dikalangan orang Batak yang mengerti adat nenek moyang.
Pada awalnya aku tidak percaya kenyataan seperti itu, tetapi kira-kira lima belas tahun yang lalu aku kena marah di salah satu ruamh karena aku menjalankan tugas dari keluarga orang mati meminta tuan rumah menjadi tulang dalam adat orang mati.
Tulang orang mati adalah seseorang yamg memiliki marga sama dengan ibu orang mati yang harus berperan dalam penyelesaian adat orang mati, padahal semasa hidup si orang mati tidak pernah kenal dan berinteraksi satu sama lain dan kini harus berperan aktif dalam penyelesaian adat kematian si orang mati.

Sungguh keterlaluan jika tidak pernah merasakan suka duka hidup bersama bere yang kini terbaring kaku di dalam peti mati, tetapi harus menanggung capai berperan aktif dalam adat dari pagi hingga sore bahkan sampai malam hari dengan pengorbanan dana yang tidak sedikit bagi orang mati yang tidak pernah peduli pada sang tulang selama ini.
Karena itu, selama masih ada nafas kehidupan berperan aktif dalam punguan marga agar ketika kita mati tidak ada yang merasa menjadi “Tulang Orang Mati”
Tulang tak dikenal, kalau tulang orang mati sudah lama dikenal.
Tulang tak dikenal baru muncul akhir-akhir ini terutama ditano parserahan oleh orang -orang Batak yang anggap enteng pada adat atau oelh orang Batak yang kurang tau adat.
Tulang tak dikenal muncul ketika ada pernikahan antara dua sejoli.
Salah satu atau kedua pasangan orang tua pengantin tidak pernah bergaul baik dan aktif dalam punguan marga.
Ketika anak-anak mereka menikah dan minta diadati, orang tua sibuk mencari teman semarga karena kebetulan satu marga dengan ibu pengantin maka kita menjadi tulang tak dikenal bagi pengantin berdua.

Menjadi tulang tak dikenal memeras tenaga, waktu dan dana.
Tak diperankan kasihan ito semarga dan malu satu marga kalau adat tidak terlaksana hanya karena kita tidak bersedia memerankan tulang yang tidak dikenal.
kalau diperankan ada segi baik dan jeleknya.
Tulang dapat dianggap remeh oleh bere karena mudah diatur, namun bisa dianggap orang baik yang suka menolong.
Dan karena itu, bere berdua dan ito semarga kita belajar tatakrama adat dan akhirnya mau bergaul baik dan aktif dalam punguan marga di hari-hari dan tahun-tahun berikutnya.





September 21st, 2009 at 2:16 pm
Berat kali bahasannya ah
Thx for the lesson ampara awak…
September 22nd, 2009 at 4:27 am
Moga-moga banyak yang sadar ya toh !
September 22nd, 2009 at 9:50 am
tulang sop buntut gmn itu iban…?hehehe
October 5th, 2009 at 7:07 am
Jadilah orang batak yg tau akan identitas dirinya dan mengetahui asal usulnya. Keberadaan Tulang/ Paman mulai dari kandungan, kelahiran, masa hidup sampai ajal menjemput pasti ada dan semua orang Batak pasti menjalaninya, kecuali Dalle, sangat sakit rasanya kalau dicap tidak maradat. Banyak diperantauan setelah meninggal baru diketahui marga Pamannya, ada alasan yg mengatakan karena tdk punya jadi tdk dicari pamannya, hal ini hanya alasan yg dibuat2, sesungguhnya tdk demikian. Satu hal yg perlu diketahui generasi muda sekarang jadilah orang yg menghargai jati dirinya dan menghargai adat istiadat, karena apapun alasannya tidak bisa kita menyangkal bahwa bukan orang batak, sama saja hal itu membohongi diri sendiri dan Tuhannya, kalaupun mengaku menjadi orang Bugis, jawa, padang dll misalnya pasti tdk akan mampu berinteraksi, kalaupun ada akulturasi budaya itu hanyalah sekedar utk memperkaya pengalaman dlm keragaman budaya.
Hai Pemuda pemudi banggalah sebagai ORBA, tunjukkan jati dirimu, tanya orang tuamu, kalau merantau cari orang tuamu, tulangmu, jangan pernah menjadi batak nalilu dan banyak hal2 yg sudah terjadi dan memalukan diperantauan, setelah meninggal baru ketahuan Pamannya, ini perbuatan yg sangat memalukan keluarga yg ditinggal kelak.
Salam & GBU, Als Manik, MSi