Sejak kecil orang Batak telah diperkenalkan dan diajari untuk berhubungan dengan seluruh kerabat sekampungnya (haha-anggi, bapa-uda, bapa-tua, ompung dan sebagainya) yang merupakan kelompok dongan tubunya.
Demikian juga halnya terhadap Amangboru dengan seluruh kerabatnya, yang merupakan borunya, serta terhadap tulang dengan seluruh kerabatnya yang merupakan kelompok hula-hulanya.
Dalam pergaulan sehari-hari, ia juga harus belajar tata krama berkomunikasi dengan kelompok-kelompok kerabat itu. Sehingga di dalam pertumbuhannya sampai ia menjadi seorang dewasa yang telah mampu menilai tata hidup yang ia jalankan bersama-sama dengan seluruh anggota masyarakatnya, secara tidak sadar tertanam dan tumbuh dengan baik didalam jiwanya sebuah tata krama kehidupan Dalihan Natolu.
Tatakrama itu akan terlihat dengan jelas dalam perilakunya dalam pergaulan hidup sehari-hari. Ia sangat memahami tatacara berfungsi sebagai dongan tubu dan berkomunikasi dengan sesama dongan tubu nya.
Ia memahami tatacara berfungsi sebagai hula-hula dan berkomunikasi dengan Amangborunya. Ia juga memahami bagaimana berfungsi sebagai boru dan berkomunikasi dengan tulang nya.
Dari Gambaran tersebut terlihat bahwa ketiga fungsi Dalihan Natolu, yaitu dongan tubu, boru, hula-hula serta tata krama pergaulan diantara ketiga fungsi itu, pada dasarnya adalah tertanam dan bertumbuh di dalam diri setiap orang. Dan dalam pergaulan hidup sehari-hari setiap orang itu harus selalu menyadari fungsinya yang tepat dalam berhadapan dengan setiap orang lain. Dengan memahami dan menjiwai tata krama itu dalam pergaulan hidupnya sehari-hari seseorang tidak akan mengalami kecanggungan dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam komunitas atau masyarakatnya.
Agar seseorang itu dapat dengan tepat menempatkan dirinya pada posisi atau fungsi sosial yang benar dalam berhadapan dengan orang lain, mereka akan saling berkenalan lebih dahulu dengan menyebutkan marganya masing-masing. Bahkan mungkin perlu pula memberitahukan asalnya masing-masing akan menempatkan dirinya pada posisi sosialnya yang benar dan komunikasi pun dapat berjalan dengan lancar.
Metode pengembangan interrelasi atau saling hubungan antar orang (interrelationship development) seperti itu menjadi suatu metode yuang diterima secara umum di tengah-tengah masyarakat kita sedemikian rupa sehingga metode itu tertanam dan tumbuh terus didalam jiwa kita dan kita bawa kemanapun kita pergi.
Dalam perkataan lain Fleksibilitas untuk pergantian posisi atau fungsi sosial dalam rangkaian Dalihan Natolu itu disebut kemampuan beradaptasi atau adaptability. Dengan demikian rata-rata orang Batak pada dirinya masing-masing memiliki kemampuan beradaptasi yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan anggota masyarakat dari suku-suku lain seperti orang Sunda, orang Bugis, orang Jawa dan lainnya. Hal itu dapat kita buktikan dengan menyebarnya orang Batak diseluruh pelosok neger, dari Sabang sampai Merauke tanpa kesulitan yang berarti.
Kemampuan demikian dapat kita miliki, disadari ataupun tidak disadari adalah karena didalam jiwa kita tertanam dan tumbuh dengan baik tatakrama bermasyarakat Dalihan Na Tolu dan tatakrama bertutur Dalihan Na Tolu.
Horas..




Recent Comments