Bertempat di pegunungan sumatera utara, Batak adalah salah satu kelompok-kelompok pribumi yang paling besar di Indonesia.
Mereka dipisahkan ke dalam enam kelompok, Toba, Pak Pak/Dairi, Karo, Angkola, Mandailing, dan Simalungun, dan ditaksir total penduduk sekitar 3 juta.
Rumah komunal Batak yang tradisional mempunyai tiga tingkat, yang cocok sampai ketiga kadar alam semesta mereka: dunia atas, dunia tengah, dan dunia lebih rendah.
Atap tinggi melambangkan dunia atas, bidang tuhan.
Derajat hidup (mengangkat di atas tanah di atas tiang) simbolik dunia tengah di mana manusia berkedudukan.
Angkasa di bawah derajat hidup melambangkan dunia lebih rendah, yang dikira menjadi rumah seekor naga mitologis.
Elemen dekoratif rumah komunal yang utama adalah kepala hewani berukir yang besar.
Seni pahat ini, yang ditempatkan di akhir balok sampingan, berfungsi melindungi alat yang mempunyai kemampuan untuk melepaskan tenaga positif baik seperti yang melindungi penduduk dari penyakit atau kejahatan.
Anggota himpunan Batak yang paling sangat kuat adalah spesialis ritual, dikenal sebagai datu.
Mereka adalah pakar agama, dan mereka biasanya berkedudukan di desa-desa.
Spesialis ini, yang secara khusus bagi pria, dapat melenyapkan sakit, menghubungi jiwa yang mati, dan meramalkan hari-hari bertuah untuk peristiwa khusus.

Seorang “Datu” yang kebanyakan memiliki penting adalah staf ritualnya, yang terbuat dari kayu istimewa yang melambangkan pohon hidup.
Karena seorang spesialis diharuskan membuat stafnya sendiri, mereka berubah-ubah secara luas di gaya dan bentuk.
Yang paling sederhana semacam staf ritual, tungkot malehat (staf licin), mempunyai tunggal kayu atau logam bilangan lekat pada akhir tertinggi tangkai.
Spesialis “menghidupkan” atau menggiatkan kekuasaan bilangan dengan mengisi mereka dengan minuman gaip, dikenal sebagai pupuk.
Bahan ini dianggap menjadi teramat sangat kuat dan bisa disimpan hanya di macam wadah yang tertentu seperti terompet berongga kerbau, bejana kayu, atau keramik perdagangan Cina.
Batak Toba,bertempat di pusat daerah, diketahui untuk bahan tekstil mereka yang ditenun dengan tangan.
Dibuat secara eksklusif oleh wanita, ini kain dipakai sebagai hadiah membajui dan bertukaran ritual yang tradisional.
Satu macam kain yg sgt penting adalah ulos ragidup, secara tradisional dipakai dalam upacara perkawinan.
Pada hari perkawinan, bapak pengantin wanita memberikan kain ini kepada ibu pengantin pria.
Perbuatan simbolik ini mempersatukan kedua keluarga dan menjamin kesuburan pasangan.
Kemudian dilungsurkan dari satu pembangkitan ke yang berikutnya sebagai pusaka, serta barang-barang perhiasan dan benda rumahtangga lain.

Batak Toba juga membuat golek kayu yang berukir dikenal sebagai si galegale.
Golek ini dipakai selama funerary upacara bagi laki-laki kaya yang tidak mempunyai keturunan anak laki2 untuk melakukan upacara di rumah mereka.
Golek diukir di persamaan individu almarhum, yang berpakaian pakaian, dan diberi sistem kompleks tali yang dikuasai oleh seorang dalang.
Sesudah menari di antara orang yang berkabung, golek ditelanjangi mereka dan dilemparkan di seberang tembok desa, menilai kesimpulan upacara.

Beberapa Peninggalan sejarah Batak, antara lain:


Architectural Ornament, late 19th–early 20th century
Toba Batak people, Sumatra, Indonesia
Wood, paint; H. 13 1/2 in. (34.3 cm)
Gift of Fred and Rita Richman, 1988 (1988.143.68)

Di antara orang Batak Toba Sumatra utara, dgn rumah-rumah komunalnya , dan di beberapa areal yh masih ada, yang kaya dengan ukiran arsitektur yang berwarna merah, putih, dan hitam.
Ukiran yang bertunas bentuk geometris yang ditaburkan merupakan lambang yg dipakai kepala atau bilangan makhluk sejati atau luar biasa, yang diukir di putaran.
Walaupun akhirnya rumah dihiasi dengan tampilan singa (makhluk kombinasi yang menggambarkan wali gaib), pihak rumah sering diberi tanda jasa dengan kepala kuda, yang juga menjabat sebagai pelindung gaib.
Dalam keyakinan orang Batak Toba, nenek moyang yakin bahwa kuda dikira mempunyai kemampuan untuk memajukan individu.
Di atas tanah, mereka menjabat sebagai tanda kebesaran, sehingga hanya anggota kaya elite bisa memiliki mereka.


Ceremonial Textile (Ulos Ragidup), late 19th–early 20th century
Toba Batak people, Sumatra, Indonesia
Cotton; L. 42 1/2 in. (108 cm)
Gift of Ernest Erickson Foundation Inc., 1988 (1988.104.25)

Bahan tekstil mahakeramat orang Batak Sumatra utara ragidup ,yang artinya secara harafiah berarti “pola hidup.”
Baik selama maupun di luar kehidupan seorang individu, ragidup memainkan peranan penting.
Barangkali yang paling kritis terjadi kalau seorang wanita hamil dengan anak pertamanya.
Pada waktu ini, orang-tuanya biasanya memberikan dia ulos ragidup, atau ulos ni tondi atau “kain jiwa,” yang ,e,iliki kekuatan luar biasa untuk melindungi dia dan keluarganya seumur hidupnya.
Selama upacara, seorang spesialis dipanggil di atas untuk “membaca” kain, yang pola kompleksnya dikira meramalkan masa depan wanita.
Ragidup adalah juga elemen esensial di upacara perkawinan Batak, di mana dibelitkan pada ibu pengantin laki-laki oleh bapak pengantin wanita sebagai hadiah seremonial.
Di kematian, ragidup menyelimuti almarhum dan itu berlangsung dar tahun ke tahun, tulangnya di bungkus dan dimasukkan dlm kuburan sbagai acara ritual.


Container for Magical Substances (Perminangken [?]), 19th–early 20th century
Toba Batak people, Sumatra, Indonesia
Wood, Chinese trade ceramic; H. 13 1/2 in. (34.3 cm)
Gift of Fred and Rita Richman, 1988 (1988.124.2a,b)

Dulu, wadah untuk bahan gaip membentuk bagian pusat perlengkapan ritual spesialis yang dipercaya oleh orang batak toba pd umumnya (datu).
Sering sekali terjadi, dimana bejana keramik impor yang tertutup atau disumbat dengan kayu yang berukiran di daerah setempat, wadah seperti itu terutama dipergunakan untuk bertanam pukpuk, bahan gaib yang sangat kuat biasanya mendapat dari seorang korban pengasih yang dibunuh secara ritual.
Pukpuk dipergunakan untuk memeriahkan benda keramat, seperti tongkat ritual atau bilangan manusia, lewat dipakai ke yang permukaan atau dimasukkan ke dalam lubang di benda yang nanti dipropagandakan untuk menyegel kekuasaan dalam.
Sumbat wadah ini menggambarkan seorang penunggang yang menunggangi seekor binatang gaib dikenal sebagai singa.
Sering menggabungkan roman kuda, ular, kerbau, predator bangsa kucing besar, dan binatang lain, singa adalah makhluk kombinasi yang luar biasa yang menjabat sebagai pelindung gaib dan dihubungkan dengan kaum ningrat.


Puppet Head (Si Gale-gale), late 19th–early 20th century
Toba Batak people, Sumatra, Indonesia
Wood, brass, lead alloy, water buffalo horn, pigment; H. 11 1/4 in. (28.6 cm)
Gift of Fred and Rita Richman, 1987 (1987.453.6)

Orang Toba Batak Sumatra utara membuat wayang canggih (si angin kencang-angin kencang atau dikenal si gale-gale) menguasai sistem kompleks tali dan pengangkat yang membolehkan mereka merapatkan cara tata hidup.
Si angin kencang-angin kencang(si gale-gale) dulu memainkan tugas sangat penting di beberapa upacara funerarya.
Ketika seorang meninggal jiwanya menjadi jiwa leluhur.
Untuknya atau jiwanya akan memiliki jajaran yang sama setelah kematian bahwa orang mempunyai hidup, anak almarhum mesti melakukan yang upacara funerary.
Jika orang meninggal tanpa anak, si angin kencang-angin kencang dibuat sebagai tiruan untuk melakukan yang perlu funerary ritual.
Kalau dipakai, golek diletakkan di muka, akhir sebuah kotak datar yang panjang dengan tali, menjadi dalang, yang berada di di belakang kotak, menguasai boneka dari suatu jarak, memberi khayal bahwa bilangan ialah menghidupkan diri.
Dengan cermat dipermainkan oleh dalang, si angin kencang-angin kencang dapat melakukan semua tarian yang diperlukan dan protokol ritual bagi orang-tua almarhumnya.
Kepala keluarga berdiri begitu dekat-lifesized si angin kencang-angin kencang.
Analisa baru menampakkan menjadi sebuah karya agung teknik yang baik sebagai seni pahat.
Mempertahankan mekanisme yang kompleks,membolehkan bilangan menonjol tablike lidah kayu.
Saku fleksibel karet, yang ditempatkan di belakang masing-masing mata, lumut basah yang dipegang semula atau bunga karang basah, yang kalau diperas di samping mekanisme digiatkan oleh dalang, mengeluarkan tangis karena orang-tuanya yang meninggal.


Finial from a Ritual Staff (Tungkot Malehat), 19th–early 20th century
Toba Batak people, Sumatra, Indonesia
Copper alloy, resin; H. 4 1/2 in. (11.4 cm)
Gift of Fred and Rita Richman, 1988 (1988.143.141)

Spesialis keyakinan Batak Toba (datu) tongkat ritual yang dipekerjakan yang dulunya adalah mengandung supranatural,yang maju dengan kuat membantu mereka dalam melakukan upacara.
Tongkat ini dua macam: contoh yang lebih besar (tunggal panaluan) diukir dari satu potong kayu dan tongkat kombinasi yang lebih kecil (tungkot malehat) dengan secara terpisah membuat finials.
Bilangan kuningan yang dilihat di sini ialah semula finial tungkot malehat.
Lambang ini melambangkan subyek yang kemungkinan di trans.
Ini, bersama dengan bejana silindris bertahan di samping figur tersebut, yang mungkin melambangkan wadah untuk bahan gaip, kegaiban ini menggambarkan datu selama kinerja ritual.
Bagian dalam berongga bilangan dipenuhi dengan resinous bahan, kelihatan lewat lubang di hiasan kepala dan dada.
Ini adalah bahan gaib, yang meningkatkan kekuasaan kegaiban.


Container for Magical Substances (Naga Morsarang), 19th–early 20th century
Toba Batak people, Sumatra, Indonesia
Water buffalo horn, wood; L. 20 1/2 in. (52.1 cm)
Gift of Fred and Rita Richman, 1987 (1987.453.1)

Orang Batak Toba Sumatra utara teramat terkemuka dalam kelimpahan dan jenis sastra ritual mereka.
Dulu, bilangan agama pokok di Toba Batak masyarakat ialah datu, spesialis taat beragama pria yang bertindak sebagai perantara di antara manusia dan dunia gaib.
Bagian terbesar Batak Toba seni religius yang dipusatkan pada ciptaan dan dandanan perlengkapan bekas oleh datu di konteks ritual seperti divination(medium), menghancurkan upacara, atau sihir jahat.
Datu menggunakan jenis wadah yang terbuat dari bahan berbeda untuk memuat bahan yang luar biasa sangat kuat yang dipakai di ritual dan konteks seremonial lain.
Macam wadah yang dilihat di sini, dikenal sebagai naga morsarang, diciptakan dari terompet berongga seekor kerbau.
Ujung terompet digoreskan di bentuk bilangan manusia yang didudukkan.
Yang lebih lebar, membuka akhir tersumbat dengan sumbat kayu bahwa itu menggambarkan singa (makhluk luar biasa yang menjabat sebagai seorang pelindung gaib) dengan empat bilangan manusia berkuda di punggungnya.
Tamsilan manusiawi ini mungkin melambangkan rangkaian ritual yang mendahului datu, yang memiliki wadah atau bilangan dari tradisi lisan yang lokal.

Sumber: www.metmuseum.org


Spesial thanks buat Mardiana Manik, atas terjemahannya :x

Facebook Comments

3 Responses to “Artifak Bangsa Batak”

  1. Mardiana says:

    sama-sama bang,,,,aku jg berterima kasih buat bang Edison yang baek, lucu, yang suka ngejek,,,aku juga jadi nambah ilmu ttg Batak,,,

    ok deh

    JBUs

    eeeemmmmmmmuuuuuaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh

  2. saya sudah sering melihat artefak2 ini di buku2 arkeologi. memang bagi orang batak yang hidup di kota ini suatu hal yang baru, tetapi bagi orang batak yang perduli dan perhatian dengan batak itu sendiri,mis:pengetua adat,antropologi,arkeologi,sejarawan,dll. itu bukan hal yang asing.memang sudah sangat bagus dan menarik karena di sertai gambar. komentar saya: tulisan artefak ini di tulis berdasarkan pemikiran anda sendiri dari bahan-bahan dan data yang sudah ada yang anda peroleh, bukan dari masyarakat batak itu sendiri. maaf karena sudah banyak orang berbicara mengenai batak dari presepsi mereka, bukan dari masyarakatnya.masyarakat batak itu banyak, jadi agak sulit memang mencari informan yang benar, akan tetapi cukup menarik untuk pengetahuan umum!

  3. Bang, klo mo beli artifak2 Batak, dimana yah? Ada yang tau contact personnya? Terimakasih.

Leave a Reply