Perkembangan budaya tradisional Nusantara mengalami tantangan yang semakin kompetitif dari budaya-budaya negara lain. Hal ini merupakan indikasi diperlukannya suatu terobosan inovatif untuk mendongkrak kembali nilai-nilai budaya tradisional yang terpuruk ke tempat yang lebih layak dalam pandangan masyarakat modern.

Aksara Nusantara merupakan salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. Ada beragam jenis aksara Nusantara yang secara garis besar dapat dibagi ke dalam lima kelompok yaitu aksara Hanacaraka, aksara Ka-Ga-Nga, aksara Batak, aksara Sulawesi, dan aksara Filipina.

Salah satu aksara yang perlu mendapat perhatian khusus adalah aksara Batak yang terancam punah terkait dengan keterbatasan sumber data dan informasi. Berbeda dengan sastra dan budaya Jawa yang cukup eksis, aksara Batak masih sangat minim dimengerti oleh masyarakat. Bahkan sebagian besar masyarakat Batak sendiri tidak mengetahui adanya aksara Batak.

Faktor-faktor penyebab punahnya tradisi penulisan aksara Batak antara lain:
1. Sebagian besar sastra Batak tidak pernah ditulis. Cerita-cerita rakyat dalam bentuk fabel, mitos dan legenda, umpama dan umpasa, torhan-torhanan, turiturian, huling-hulingan semuanya diturunkan hanya secara lisan dari generasi ke generasi.

2. Masuknya agama Islam dan Kristen ke tanah Batak, yang membenci produk-produk pustaha para datu yang dianggap “obyek-obyek kekafiran” sehingga mengakibatkan timbulnya pemusnahan massal. Akibatnya, semenjak tahun 1852 pustaha telah terancam punah

3. Sisa pustaha Batak yang masih ada tersimpan dalam koleksi-koleksi museum atau perpustakaan mancanegara terutama Belanda dan Jerman, dan sebagian kecil di Perpustakaan Nasional Jakarta.

Dalam era modern saat ini media komunikasi tulis global yang paling efektif adalah huruf latin. Fakta inilah yang menjadi dasar upaya adaptasi karakter aksara Batak ke dalam huruf latin, sebagai suatu solusi yang baik dari segi fungsi, efisiensi serta faedah yang dapat diterima oleh masyarakat. Faktor-faktor ini penting, mengingat aksara dalam segi komunikasi tidak dibutuhkan lagi.

Tujuan akhir dari proses penelitian adalah dihasilkannya desain huruf latin berkarakter Aksara Nusantara, dengan fokus aksara Batak Toba, yang menjadikan aksara Batak mudah diakses dan dikenal karakternya oleh suku dan bangsa lain di seluruh dunia, termasuk masyarakat Batak sendiri. Dengan demikian, huruf latin berkarakter aksara Nusantara ini dapat difungsikan sebagai mediator sosialisasi visual aksara Batak dengan tingkat efektivitas yang setara dengan huruf latin dan tingkat penyebaran bertaraf global.

1
Silsilah Aksara
Sumber: Kozok, 2009

Basis proses adaptasi karakter adalah tipografi, yaitu bagaimana merancang sebuah typeface atau font huruf latin yang memiliki karakter aksara Batak Toba dan memenuhi kaidah-kaidah yang berlaku dalam sebuah typeface atau font huruf latin, seperti readibility, legibility, dan lain-lain.

Proses Perancangan Pola Huruf
Sebagai media komunikasi tulis, aksara memiliki perbedaan signifikan dengan huruf latin, terutama dari segi visual dan teknis pembacaan. Pembeda dari segi visual antara lain proporsi, karakter visual, anatomi huruf, dan konstruksi geometri. Pembeda dari segi teknis pembacaan adalah aksara Batak termasuk dalam jenis aksara silabik, yaitu aksara yang menggambarkan suku kata (a-ha-ma-na-ra) sedangkan huruf latin termasuk dalam jenis aksara fonetik yaitu jenis aksara yang berupa lambang fonem (ab-c-d-e). Atas dasar perbedaan-perbedaan ini, maka proses adaptasi karakter huruf memerlukan suatu bentuk pola dasar huruf yang menjadi titik temu antara karakter aksara Batak Toba dengan karakter huruf latin.

2
Urutan Aksara Batak Toba (Ina ni surat)
Sumber: Kozok, 2009

PROPORSI DAN KARAKTER VISUAL
Karakter serta proporsi aksara Batak dengan huruf latin mempunyai perbedaan yang mencolok. Sebagai materi studi, diperlukan data visual keduanya.

3
proporsi huruf Roman
Sumber: Perkins

4
aksara Batak Toba pada pustaha Bremen
Sumber: www.hawaii-indolang.com


ANALISIS ANATOMI HURUF

Baseline, capline, meanline
Pada huruf latin, tiap huruf tertata dalam suatu posisi yang rata-teratur dan apabila ditarik garis tegak lurus secara horizontal antar huruf yang satu dengan huruf lainnya ditemukan struktur garis maya tertentu, yang disebut baseline, capline, dan meanline.

Namun pada aksara batak, ketiga struktur garis ini agak sulit ditangkap secara langsung oleh mata. Umumnya aksara Batak yang baku dituliskan secara vertikal dari bawah ke atas (kemudian dibaca secara horizontal dari kiri ke kanan) namun belum tentu tegak lurus satu sama lain, walaupun secara teori, seperti halnya aksara-aksara dari India, aksara Batak mempunyai ’garis utama’ (menyerupai capline pada huruf latin) yang berfungsi layaknya gantungan bagi bentuk baku aksara (apabila dilihat secara mendatar, pada posisi baca). Satu hal yang menarik pada aksara Batak adalah tidak dikenalnya istilah capline akibat tidak mempunyai bentuk huruf besar. Faktor ini menyebabkan struktur garis maya aksara Batak lebih variatif dibanding huruf latin.

Ascender, x-height, descender
Susunan huruf latin secara vertikal terbagi menjadi 3 bagian dengan komposisi seimbang, yaitu ascender, x-height, dan descender. Berbeda dengan aksara Batak yang tampak dominan mengalir secara horizontal dan tidak mempunyai bentuk tegakvertikal murni (90 derajat). Adapun beberapa unsur garis yang cenderung vertikal pada aksara Batak memiliki sudut kemiringan tertentu sehingga kurang menonjol dibanding unsur horizontal. Tentunya hal ini berkaitan dengan cara penulisan keduanya yang berbeda.

ANALISIS UNSUR GARIS
Studi mengenai penyederhanaan sudut geometri aksara Batak berpedoman pada hasil analisis unsur garis berdasarkan anatomi huruf. Untuk menganalisis sudut geometri aksara Batak, dilakukan perhitungan jumlah kelompok garis dengan asumsi aksara Batak tersebut ditulis dengan cara ditoreh menggunakan benda tajam, sehingga bentuk-bentuk lengkung terdistorsi menjadi sudut. Dengan pengecualian, bentuk lengkung pada bagian garis luar aksara Batak yang berpola dasar lingkaran tidak ikut dijadikan sudut.

5
contoh sketsa analisis geometri aksara Batak
Sumber: Kertasari, 2009

KONSTRUKSI GEOMETRI
Dari hasil analisis anatomi huruf dan analisis unsur garis berdasarkan sudut geometri diperoleh perbandingan elemen garis konstruksi pembentuk aksara Batak sebagai berikut

6
Tabel 1: Perbandingan Konstruksi Geometri
Sumber: Kertasari, 2009

Berdasarkan tabel perbandingan konstruksi geometris, dapat diperoleh beberapa kesimpulan. Pertama, unsur horisontal pada aksara Batak Toba lebih dominan dibanding unsur vertikal. Kedua, aksara ini tidak mempunyai bentuk tegak-vertikal (90 derajat), padahal jumlah bentuk tegak-vertikal pada huruf latin berjumlah 20 atau kedua terbanyak setelah bentuk tegak-horizontal. Ketiga, keseimbangan komposisi unsur garis vertikal dan horizontal pada huruf latin terbukti dalam hasil perhitungan unsur garis.

POLA HURUF
Analisis dari segi visual dan teknis pembacaan (pada uraikan sebelumnya) menghasilkan rumusan bentuk pola dasar hasil gabungan huruf latin dengan aksara Batak. Bentuk pola dasar desain huruf ini semula berbentuk lingkaran, namun kemudian dimampatkan menjadi bentuk elips, dengan pertimbangan rata-rata bentuk elips aksara Batak pada pustaha Bremen.

Hasil Final Pola Desain Adaptasi Karakter Aksara Batak Toba Dalam Huruf Latin
7
Hasil Final Pola Desain Huruf
Sumber: Kertasari, 2009

Desain
Pola yang telah dihasilkan dari proses penelitian menjadi pedoman pembuatan bentuk huruf latin dengan karakter aksara Batak Toba. Tahapan dalam mendesain huruf adalah sketsa alternatif huruf, memasukkan hasil desain huruf terpilih ke dalam pola, proses komputerisasi

8
Contoh Sketsa desain huruf besar
Sumber: Kertasari, 2009

9
Contoh Sketsa desain huruf kecil
Sumber: Kertasari, 2009
© 2009 Njoo Dewi

KOMPUTERISASI
Pola huruf terlebih dahulu diubah menjadi bitmap, kemudian dilakukan pengaturan kerning huruf dan spasi huruf dengan menggunakan software pembuat font.
10
Pengaturan bentuk huruf menjadi bitmap

11

111
Pengaturan kerning huruf & spasi huruf

HASIL DESAIN
Hasil akhir proses adaptasi karakter aksara Batak Toba berupa tiga set character font, yaitu:
• Set Character Batu Harang Debata (display font)
• Set Character Batu Harang (regular font)
• Set Character Batu Harang (bold font)

Display font dapat digunakan sebagai headline judul buku dan ragam tulisan hias lainnya dengan karakter Batak Toba yang lebih kuat dibanding regular font dan bold font yang berfungsi sebagai bodytext. Keunggulan bodytext adalah bentuk huruf yang lebih sistematis dengan tingkat readability lebih tinggi dibandingkan dengan display font.

APLIKASI DESAIN HURUF
Desain huruf berikut merupakan uji coba aplikasi pada layout spread buku budaya Batak. Jenis huruf yang digunakan adalah Batu Harang (bold font) pada judul dan Batu Harang (regular font) sebagai bodytext.

13

14
Aplikasi berupa spread buku Batak Sculpture
Sumber: Kertasari, 2009

Mendesain huruf latin dengan karakter aksara Batak Toba merupakan suatu tantangan tersendiri. Diperlukan wawasan budaya yang luas, pemilihan data yang tepat, serta kecermatan dalam mengolah data visual agar sesuai dengan tujuan desain huruf. Huruf latin dan aksara Batak memiliki karakter yang sangat berbeda sehingga memunculkan pertanyaan ”sudah cukup latinkah bentuk font berkarakter Batak ini?” atau ”seberapa Batak-kah huruf latin ini harus dimunculkan karakternya?” Titik temu antara karakter huruf latin dengan aksara merupakan jawaban yang relatif yang akan kembali pada nilai seni pribadi penciptanya.

Standarisasi pembuatan huruf latin berkarakter aksara Batak Toba ini berpegang pada tujuan pembuatannya, yaitu untuk keperluan bodytext percetakan buku budaya Batak agar lebih berkarakter. Oleh karena itu readability dan legibility merupakan hal terpenting tanpa mengesampingkan kekuatan karakter Batak yang dimunculkan.

DAFTAR PUSTAKA
Kozok, Uli. 2009. Surat Batak, KPG, Jakarta.
Sihombing, Danton. 2001. Tipografi Dalam Desain Grafis, KPG, Jakarta.
Kertasari, Njoo Dewi. 2009. Huruf Latin Berkarakter Aksara Batak Toba (Tugas Akhir), FSRD ITB, Bandung.
Haswanto, Naomi. 2002. Tinjauan Rupa Atas Aksara Batak Toba Sebagai Gagasan Bagi Tipografi Masa Kini (Tesis), FSRD ITB, Bandung.
Carpenter, Bruce W. 2007. Batak Sculpture, Star Standard, Singapore.
Yayasan Harapan Kita. 1997. Aksara, Perum Percetakan RI, Jakarta.
Miller, Didier. 1998. Languange and Literature, Indonesian Heritage, Singapore.
Casparis, J. G. de. 1975. Indonesian Palaeography, Leiden: E.J Brill.
Mc Glynn, John H (ed). 2002. Indonesian Herritage jilid 10: Bahasa dan Sastra, Buku Antar Bangsa, Jakarta.
Cullen, Kristin. 2005. Layout Work Book, Page One, Singapore.
www.desaingrafisindonesia.wordpress.com
www.tipografi-indonesia.com

Facebook Comments

2 Responses to “Komputerisasi Design Tipografi Dan Aksara Batak”

  1. saihot sihaloho says:

    di tunggu cara penulisan aksara batak online

  2. olo nainggolan says:

    horas…
    aku mencari gambar dari ‘pane na bolon (naga)dan kedelapan arah mata angin dalam semesta alam batak’ di website tp tdk ketemu… minta tolong bantuannya,,,
    mauliate…

Leave a Reply