“Sawan nahujunjung on,
marisi mual pangurasanon.
Margondang ho amanguda,
asa manortor ahu sabornginon

Tarise ho doli-doli,
mambahen adat nasuman denggan”

Teks di atas adalah lirik satu repertoar lagu Opera Batak yang dicipta pionirnya bernama Tilhang Gultom dan sedikit telah memperkenalkan tortor saoan (tari cawan) dari Toba. Digambarkan dalam lirik tersebut, ada seorang yang siap sedia menari semalaman dengan menjinjing cawan.

Coba bayangkan sebuah cawan di atas kepala akan dijinjing terus selama menari! Hitung-hitung cawannya bisa jatuh dan pecah. Soalnya cawan yang dijinjing itu biasanya dari bahan porselen putih buatan Cina dengan besaran yang bisa berbeda-beda. Cawan terbesar dapat berdiameter kira kira 6 centimeter dan terkecil 2,5 cm. Cawan itu juga terisi air. Kalau tumpah bisa bikin basah tempat menari atau penarinya sendiri. Seorang penari yang cawannya jatuh dianggap merasa malu karena hal itu dianggap pelanggaran.

Seorang penari cawan sesungguhnya termasuk penari yang handal. Di samping kehandalannya mempertahankan cawan di atas kepala, dia harus mampu bergerak ke sana ke mari dengan variasi melompat dan menghentakkan tangan. Selain itu hal yang dijaga tentu interaksinya dengan iringan musik. Sehingga tari cawan kelihatan menggetarkan, menantang, dan eksotik. Tidak banyak orang berani menjadi penari cawan karena persoalannya bukan sekedar menjinjing cawan itu.

Dulu seorang penari cawan dikenal sebagai seorang si Baso (dukun perempuan) yang berfungsi dalam ritus. Jadi status sebenarnya bukan seorang penari. Namun karena kemampuan supranatural dan sebagai medium atau terapis, semua gerak dalam tariannya menjadikan dukun perempuan dianggap penari yang layak dan pintar. Sampai saat ini pelaku penari cawan masih tetap dari kalangan perempuan karena kontek awalnya itu dan ditarikan oleh satu orang.

Tari Tortor Cawan

Perkembangan Tari Cawan
Tari cawan dalam konteks awalnya tak mungkin lagi dimunculkan tanpa ritus. Memang masih dapat ditemukan satu dua penari yang masih menari dengan keaslian ritus. Keaslian itu mencakup aspek material yang dibawakan bersama cawan yang dijinjing dan musik pengiringnya. Musik pengiring tari cawan mengikuti iringan musik yang namanya gondang sabangunan, sejenis ensambel yang dilengkapi dengan sejumlah instrumen seperti ogung (gong), taganing (gendang Batak), sarune bolon (serunai besar), dan tokkel (botol pengatur ritme). Repertoar musik tertentu mengiringi tari cawan.

Cawan yang digunakan dalam konteks ritus berisi air suci. Berdasarkan lirik teks di atas air suci itu disebut dengan pangurasion. Simbol air suci dalam tradisi Batak terbuat dari air murni yang diambil dari sumber mata air pada subuh hari dan kemudian dicampur dengan jeruk purut. Pertanda klimaks tarian, air suci itu dipercikkan ke mana-mana dengan bane-bane (sejenis daun) yang diletakkan juga sebelumnya di cawan itu. Tim-tim tertentu dari Sumatera Utara telah pernah mengusung tari cawan yang asli itu ke sejumlah negara di Eropa untuk misi kesenian.

Bagaimana tari cawan dengan sejumlah penari? Tentu menjadi perkembangan menarik dalam dunia seni pertunjukan. Inspirasi koreografi untuk menampilkan tari cawan dengan sejumlah penari mungkin mulai muncul melalui tradisi pertunjukan variatif (variety show) dalam Opera Batak. Terutama karena repertoar lagu atau lirik di atas sejumlah koerografi tari cawan telah muncul pada sejumlah peristiwa. Di restoran Bagus Bay Tuktuk (Samosir) tari cawan dapat dinikmati pada jadwal tertentu tiap minggu. Suatu ketika pada acara Eco Art di Samosir Agustus 2004 lalu tari cawan dihadirkan juga. Ketika sebuah grup terbaru Opera Batak muncul di Tarutung Agustus 2002 lalu tari cawan itu dieksplor sekaligus dengan iringan lagunya. Satu dari empat orang penarinya menyanyikan lirik di atas dengan modifikasi gerak yang berbeda dengan tiga penari lain. Untuk kesempatan selanjutnya, lirik lagu tersebut akan dinyanyikan dengan terjemahannya yang janggal daniringan musik uning-uningan (ensambel musik tanpa gong dan menggunakan serunai kecil dan kecapi).

“Cawan yang di kepala,
berisi air yang suci.
Bermusiklah o, Pak Uda,
biar menari aku semalam.

Siapa kau anak muda,
membuat adat semakin baik”

___________________
Penulis: Thompson H.S

Facebook Comments

2 Responses to “Menari Bersama Tortor Sawan”

  1. wahh, kebetulan dah lama nyari vid untuk aku tunjukin ke tmn2 ‘foreigners’, Mauliate godang di hamu. =)

  2. Setahu saya cuplikan video diatas adalah nama aslinya adalah “Tortor Sipitu Sawan” bukan “Mual Pangurason”. Adapun ”
    tortor Sipitu Sawan” dibawakan oleh Group Tortor “Sanggar Budaya Lusido” Ajibata pimpinan RM. Sirait, yang ditampilkan dengan sukses pada PRSU 2011 di Medan.

Leave a Reply