Kenapa anda tidak merayakan Natal? Ada tiga alasan utama yang diajukan oleh orang Kristen yang tidak merayakan Natal. Pertama, Yesus Kristus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Kedua, 25 Desember adalah hari ulang tahun dewa-dewi. Ketiga, tidak ada perintah untuk merayakan Natal yang tercatat di dalam Alkitab.
Kelahiran Yesus Kristus
Alkitab Perjanjian Baru mencatat beberapa hari istimewa yaitu:
1. Hari Gabriel memberi tahu Maria bahwa dia mengandung
2. Hari kelahiran Yesus
3. Hari Yesus disunat pada hari ke 8
4. Hari kedatangan orang majus
5. Hari penebusan Yesus sebagai anak sulung (hari ke 30, 5 syikal perak)
6. Hari pentahiran Yesus (hari ke 40, domba/2 tekukur/2 anak merpati)
7. Hari Yesus di bait Allah pada umur 12 tahun
8. Hari Yesus dibaptis oleh Yohanes pembaptis
9. Hari Yesus membuat mujizat pertama kali
10. Hari Yesus disambut di Yesusalem
11. Hari perjamuan terakhir
12. Hari Yesus disalib
13. Hari kebangkitan Yesus (hari ke 3)
14. Hari kenaikan ke Surga (hari ke 40)
15. Hari turunnya Roh Kudus (hari ke 50)
Feast of Annunciation (perayaan pemberitahuan) dirayakan oleh gereja Ortodok dan Katolik setiap tanggal 25 Maret untuk memperingati hari Gabriel memberi tahu Maria bahwa dia akan mengandung. Gereja di Inggris menyebutnya hari wanita (Lady day) sekaligus menjadikannya sebagai hari tahun baru hingga tahun 1752.
Feast of Epiphany (perayaan manifestasi) dirayakan setiap tanggal 6 Januari untuk memperingati kelahiran, kedatangan orang majus, pembaptisan dan mujizat pertama. Mengenai perayaan ini liturgi kuno mencatatnya sebagai Illuminatio, Manifestatio, Declaratio (iluminasi, penjelasan, manifestasi, pembuktian dan deklarasi, pengumuman). Dalam perkembangan perayaan Epiphany juga disebut Twelfth Day, dua belas hari setelah Natal (25 Desember) atau Three Kings Day, hari tiga raja.
Baik Celement of Alexandria (150-211/216) dalam buku Stromata, buku ketiga dari trilogi Stromateis maupun Origen (185-254) dalam bukunya Contra Celsus (248) membahas tentang perayaan Epiphany ini.
Pada 25 Desember 380 Gregory of Nazianzus (329-389) Uskup Konstantinopel memisahkan perayaan Epiphany menjadi tiga yaitu 25 Desember untuk memperingati kelahiran dan kedatangan orang majus dan 6 Januari untuk memperingati pembaptisan serta 7 Januari untuk memperingati mujizat pertama pada perkawinan di Kana.
Sejak tahun 524 semua gereja barat merayakan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember dan merayakan kedatangan orang Majus pada tanggal 6 Januari. Sementara itu gereja timur (Ortodoks) merayakan kelahiran dan kedatangan orang Majus pada tanggal 25 Desember dan merayakan hari pembaptisan Yesus pada tanggal 6 Januri.
Tanggal 25 Desember
Gereja Katolik dan Protestan merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Gereja Ortodoks Armenian (Armenian Apostolic Church, Armenian Orthodox Church, Gregorian Church) merayakan Natal pada tanggal 6 Januari sedangkan Gereja Ortodoks Timur (Eastern Orthodox Church) merayakan Natal pada tanggal 7 Januari.
Kenapa gereja Ortodoks Armenian merayakan Natal pada tanggal 6 Januari? Karena sesungguhnya yang mereka rayakan adalah hari Epiphany. Kenapa Gereja Ortodoks Timur merayakan Natal pada tanggal 7 Januari? Karena tanggal 7 Januari pada kalender gregorian yang digunakan saat ini adalah tanggal 25 Desember pada kalender Julian yang digunakan oleh Gereja Ortodoks Timur. Mereka juga merayakan Epiphany pada tanggal 19 Januari (6 Januari kalender Julian).
Kenapa tanggal 25 Desember digunakan untuk merayakan hari Natal? Ada dua teori mengenai hal itu:
Pertama, 25 Desember ditetapkan sebagai hari Natal berdasarkan teori Sextus Julius Africanus.
Sextus Julius Africanus melalui kelima bukunya yang berjudul Chronografiai (225) mengajarkan teori perhitungan waktu Alkitab. Menurutnya jangka waktu penciptaan hingga kelahiran Yesus adalah 5500 tahun. Dia menetapkan tanggal 25 Maret sebagai hari inkarnasi Allah Putera menjadi manusia, pada hari itulah Maria menerima khabar kehamilannya dari malaikat. Sembilan bulan kemudian, 25 Desember adalah hari kelahiran Yesus Kristus.
Kedua, 25 Desember ditetapkan sebagai hari Natal untuk menggantikan perayaan musim dingin bangsa penyembah berhala yang biasa dirayakan sebelum mereka memeluk agama Kristen.
Saturnalia adalah perayaan musim dingin yang dirayakan oleh bangsa Romawi. Perayaan itu dilakukan mulai tanggal 17 Desember hingga 23 Desember. Dalam perayaan itu mereka menyembah Dewa Saturnus sebagai dewa pertanian.
Dies Natalis Solis Invicti adalah perayaan hari ulang tahun dewa Sol Invictus, lengkapnya Deus Sol Invictus (dewa matahari yang tak terkalahkan). Perayaan itu dilakukan pada tanggal 25 Desember. Tanggal 25 Desember dalam kalender Julian adalah hari terpendek atau malam terpanjang dalam setahun. Pada hari itulah dewa matahari menunjukkan bahwa dirinya tidak terkalahkan oleh kegelapan.
Yule adalah perayaan musim dingin dan hari terpendek atau malam terpanjang yang dirayakan oleh bangsa Skandinavia. Bangsa Norwegia dan Denmark dn Swedia merayakannya pada tanggal 24 Desember.
Natal dan Alkitab
Origen seorang Theolog yang hidup pada tahun 185-254 menulis:
Mengenai semua orang suci yang tercatat di dalam Alkitab, tidak ada seorangpun yang tercatat pernah merayakan hari ulang tahunnya. Hanya orang-orang berdosa (Firaun dan Herodes) yang mengadakan pesta untuk memperingati hari di mana mereka di lahirkan di dunia. (Origen, in Levit., Hom. VIII, in Migne P.G., XII, 495)
Walaupun kita tidak tahu sejak kapan umat Kristen merayakan Natal, namun sejarah gereja mencatat bahwa Natal (Epiphany) sudah dirayakan oleh umat Kristen abad kedua.
Apabila perayaan Natal itu bertentangan dengan ajaran Alkitab, maka para bapa gereja tentu sudah menentangnya. Origen (185-254) dalam tulisannya tersebut di atas menentang perayaan hari ulang tahun, bukan menentang perayaan Epiphany.
Perayaan Natal bukan perayaan hari ulang Tahun Yesus Kristus namun memperingati hari Allah menyatakan kasihNya kepada manusia, itu sebabnya dalam doa Natal kita tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun kepada Tuhan Yesus, namun bersyukur kepada Allah karena mengirim AnakNya untuk menyelamatkan manusia.
Semua perayaan keagamaan yang dirayakan oleh umat Kristen saat ini, Jumat Agung, Minggu Paskah, Kenaikan Isa Almasih, Pentakosta dan Natal adalah adalah hari-hari syukur agung. Hari untuk bersyukur kepada Allah bahwa hal-hal tersebut sudah terjadi. Melalui peristiwa-peristiwa itulah karya penebusan digenapi. Itu sebabnya umat Kristen sejak abad pertama hingga generasi ini tidak pernah mempermasalahkan apakah hari-hari perayaan tersebut adalah hari di mana peristiwa yang dirayakannya terjadi.
Umat Kristen merayakan Jumat Agung bukan untuk memperingati hari kematian Tuhan Yesus, namun untuk bersyukur bahwa Allah Putera sudah memberikan nyawaNya ganti nyawa manusia. Itu sebabnya kita tidak pernah mempertanyakan apakah hari kita merayakannya cocok tanggal dan bulannya dengan tanggal dan bulan ketika peristiwa itu terjadi?
Umat Kristen merayakan Minggu Paskah bukan untuk memperingati hari kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian, namun untuk bersyukur bahwa karya penebusan Tuhan Yesus sudah diterima Allah Bapa.
Umat Kristen merayakan Kenaikan Isa Almasih bukan untuk memperingati hari kenaikan Yesus ke surga, namun untuk bersyukur bahwa Yesus sudah kembali bertahta di surga.
Umat Kristen merayakan Pentakosta bukan untuk memperingati hari turunnya Roh Kudus, namun untuk bersyukur bahwa Roh Kudus sudah turun ke dunia dan akan tinggal di hati setiap orang yang dipilihNya.
Umat Kristen merayakan Natal bukan untuk memperingati hari ulang tahun Tuhan Yesus, namun untuk bersyukur bahwa Allah Bapa sudah menyatakan kasihNya kepada manusia dengan mengutus AnakNya dan Allah Putera sudah lahir ke dunia menaati perintah BapaNya. Itu sebabnya umat Kristen dari generasi ke generasi tidak pernah mempermasalahkan apakah Yesus Kristus lahir tanggal 25 Desember atau tidak?
Kebaktian Natal dan Perayaan Natal
Umumnya gereja memisahkan kebaktian Natal dari perayaan Natal. Kabaktian Natal adalah kebaktian syukur agung kepada Allah karena telah mengirim AnakNya ke dunia. Perayaan Natal adalah ungkapan kegembiraan manusia karena mendapat kasih Allah. Di dalam kebaktian Natal tidak ada hura-hura. Di dalam perayaan Natal jemaat bebas mengungkapkan kegembiraannya, namun gereja mengendalikannya agar berlangsung sesuai kesusilaan.
Apabila anda tidak mau merayakan Natal karena tidak menemukan ayat Alkitab yang memerintahkan untuk merayakan Natal, seharusnya anda juga tidak merayakan Paskah, Kenaikan Isa Almasih dan Pentakosta. Anda juga tidak perlu makan, minum, sekolah dan melakukan banyak hal lainnya yang tidak ada ayat perintahnya dalam Alkitab.
Apabila anda tidak mau merayakan Natal karena yakin bahwa tanggal 25 Desember pernah digunakan dan masih digunakan untuk merayakan hari ulang tahun dewa matahari, kenapa tidak memilih hari lain untuk merayakannya? Atau kenapa tidak memikirkannya sebagai kemenangan Kekristenan atas kefasikan? Atau memikirkannya sebagai tantangan kepada kaum yang merayakan ulang tahun dewa matahari pada 25 Desember?
Apabila anda tidak mau merayakan Natal karena yakin bahwa merayakan Natal tidak ada gunanya bagi anda, maka anda tidak perlu merayakannya, namun biarkanlah orang lain yang ingin merayakannya dan hormatilah mereka yang merayakannya.
Saya merayakan Natal, namun menolak Santa Claus dan kerabatnya masuk gereja serta pesta Natal yang tidak sesuai kesusilaan.
Asal Usul Perayaan Natal 25 Desember!!!!!
Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.
Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.
Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katholik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari; day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.
Maka supaya agama Katholik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya/ penyem-bahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan=Yesus). Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, Juga diputuskan: Pertama , hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung Yesus untuk menggantikan patung Dewa Matahari.
Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke- 4 Masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katholik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang.
Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang. Darimana kepercayaan paganis politheisme mendapat ajaran tentang dewa matahari yang diperingati tanggal 25 Desember?
Mari kita telusuri melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan paganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuno didalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud).
Putaran jaman menyatakan bahwa penyembah berhala versi Babilonia ini berubah menjadi “Mesiah palsu”, berupa dewa “13a-al” anak dewa matahari dengan obyek penyembahan “Ibu dan Anak” (Semiramis dan Namrud) yang lahir kembali. Ajaran tersebut menjalar ke negara lain: Di Mesir berupa “Isis dan Osiris”, di Asia bernama “Cybele dan Deoius”, di Roma disebut Fortuna dan Yupiter”, bahkan di Yunani. “Kwan Im” di Cina, Jepang, dan Tibet. Di India, Persia, Afrika, Eropa, dan Meksiko juga ditemukan adat pemujaan terhadap dewa “Madonna” dan lain-lain.
Dewa-dewa berikut dimitoskan lahir pada tanggal 25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan (tanpa bapak), mengalami kematian (salib) dan dipercaya sebagai Juru Selamat (Penebus Dosa):
Dewa Mithras (Mitra) di Iran, yang juga diyakini dilahirkan dalam sebuah gua dan mempunyai 12 orang murid. Dia juga disebut sebagai Sang Penyelamat, karena ia pun mengalami kematian, dan dikuburkan, tapi bangkit kembali. Kepercayaan ini menjalar hingga Eropa. Konstantin termasuk salah seorang pengagum sekaligus penganut kepercayaan ini.
Apollo, yang terkenal memiliki 12 jasa dan menguasai 12 bintang/planet.
Hercules yang terkenal sebagai pahlawan perang tak tertandingi.
Ba-al yang disembah orang-orang Israel adalah dewa penduduk asli tanah Kana’an yang terkenal juga sebagai dewa kesuburan.
Dewa Ra, sembahan orang-orang Mesir kuno; kepercayaan ini menyebar hingga ke Romawi dan diperingati secara besar-besaran dan dijadikan sebagai pesta rakyat.
Demikian juga Serapsis, Attis, Isis, Horus, Adonis, Bacchus, Krisna, Osiris, Syamas, Kybele dan lain-lain. Selain itu ada lagi tokoh/pahlawan pada suatu bangsa yang oleh mereka diyakini dilahirkan oleh perawan, antara lain Zorates (bangsa Persia) dan Fo Hi (bangsa Cina). Demikian pula pahlawan-pahlawan Helenisme: Agis, Celomenes, Eunus, Soluius, Aristonicus, Tibarius, Grocecus, Yupiter, Minersa, Easter.
Jadi, konsep bahwa Tuhan itu dilahirkan seorang perawan pada tanggal 25 Desember, disalib/dibunuh kemudian dibangkitkan, sudah ada sejak zaman purba4.
Konsep/dogma agama bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi, dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat Romawi karena mereka telah memiliki konsep itu sebelumnya. Mereka tinggal mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus. Maka dengan jujur Paulus mengakui bahwa dogma-dogma tersebut hanyalah kebohongan yang sengaja dibuatnya. Kata Paulus kepada Jemaat di Roma:
“Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliannya; mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? (Roma 3:7) “.
Mengenai kemungkinan terjadinya pendustaan itu, Yesus telah mensinyalir lewat pesannya:
Jawab Yesus kepada mereka : “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang”. (Matius 24:4-5)”.
SELAMAT NATAL!
ketika Allah larut dalam amarah
melihat kebobrokan manusia
dia mengirim Yesus Kristus
sebagai hadiah
Sumber:
www.sabdaspace.org/natal_bukan_ulang_tahun_yesus
2 Responses to “Natal Bukan Ulang Tahun Yesus”







luar biasa infonya kak,
terus berkarya ya..
JBU
lah terus gimana jelasinnya kalo isi PL sebahagian besar rekaan dari mitos-mitos mesir dan babilonia kuno???