Upacara adat Batak merupakan upacara religius yang menggambarkan atau memetakan roh sembahan para leluhur. Peta ini dapat terlihat dalam struktur masyarakat Batak yang disusun dengan prinsip Dalihan Na Tolu (Toba), Sangke, yang arti hurufiahnya “tungku yang berkaki tiga”. Prinsip ini membagi status dan peranan seseorang dalam tiga bahagian, yaitu: Hulahula (pihak pemberi gadis), Dongan Sabutuha (teman seperut/semarga), dan Boru (pihak penerima gadis). Pada masyarakat Karo disebut Kalimbubu, Senina, dan Berru. Hubungan dalam Dalihan Na Tolu ditata dalam suatu falsafah: “Somba marhulahula, elek marboru, manat mardongan tubu” (Bersembah kepada Hulahula, berhati-hati kepada teman semarga, membujuk, melindungi, mengayomi Boru).

Melalui ketiga kategori ini, setiap orang yang terlibat dalam upacara adat akan dipisahkan duduknya (parhundulanna) berdasarkan hubungan kekerabatan (tutur) antara dia dengan Suhut, yaitu pihak yang mengadakan upacara. Pihak hulahula duduk dalam suatu kelompok khusus, demikian juga pihak Boru dan Dongan Sabutuha. Kehadiran mereka dalam upacara itu untuk melaksanakan segala kewajiban dan menerima segala hak yang telah ditentukan di dalam adat (baca: aturan hidup agama Batak). Setiap unsur dalam Dalihan Na Tolu memiliki hak dan kewajiban yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Pada tatanan sosial, Dalihan Na Tolu menata hak dan kewajiban antara seseorang atau sekelompok orang dengan orang atau kelompok lainnya. Setiap orang dalam masyarakat Batak harus menjalankan perannya sesuai statusnya dalam konteks upacara adat. Pada suatu upacara dia bisa berperan sebagai Hulahula, sedangkan pada upacara yang lain bisa berperan sebagai Boru atau Dongan Sabutuha. Setiap orang Batak akan menduduki ketiga status itu pada saat dan hubungan kekerabatan yang berlainan. Misalkan si A, terhadap keluarga dari pihak istrinya dia berstatus Boru, terhadap keluarga dari pihak suami adik/kakak perempuannya (ito), dia berstatus sebagai Hulahula. Sementara terhadap adik lelaki atau abangnya dia berstatus sebagai Dongan Sabutuha.

Pada tatanan rohani, Dalihan Na Tolu menggambarkan relasi antara manusia dengan alam gaib, antara banua tonga dengan banua ginjang. DR.Philip.O.Tobing dalam bukuny: “The Structure of the Toba Batak Belief in the High God” (1963:149) menyimpulkan bahwa Batara Guru, Bala (Mangala) Sori, dan Bala (Mangala) Bulan adalah representasi dari masing-masing Hulahula, Dongan Sabutuha dan Boru.

Sejalan dengan itu, DR. Annicetus Sinaga, dalam artikelnya pada majalah “Dalihan Natolu” yang berjudul “Dalihan Na Tolu dijamin oleh Dewata Benua Atas” menjelaskan bahwa falsafah Dalihan Na Tolu didasarkan pada keyakinan religius Batak pada masa Hasipelebeguon. Struktur Dalihan Na Tolu menggambarkan hubungan 3 roh dewa sembahan leluhur yaitu Batara Guru, Mangala Sori (Bala Sori), dan Mangala Bulan (Bala Bulan). Dengan demikian, Dalihan Na Tolu merupakan tatanan rohani yang dimulai dari dunia atas (banua ginjang) dan harus diberlakukan di bumi.

Hulahula merupakan personifikasi dari Batara Guru, Dongan Sabutuha personifikasi dari Mangala Sori dan Boru merupakan personifikasi dari Mangala Bulan. Struktur ini merupakan pola yang menata hubungan di dunia atas dan ditetapkan oleh Mulajadi Nabolon untuk juga diberlakukan di dunia manusia (banua tonga). Struktur ini dibangun dan dijamin keberadaannya oleh dewa tertinggi Batak, yaitu Debata Mulajadi Na Bolon. Sehingga struktur itu merupakan kehendak Debata (malaikat iblis sembahan leluhur Batak) bagi manusia, dalam hal ini bagi orang Batak.

Pelanggaran struktur ini merupakan pelanggaran terhadap ketetapan Debata Mulajadi Na Bolon, dan merusakkan keseimbangan antara alam makrokosmos dengan alam mikrokosmos. Karena itu, pelanggaran ini akan mendapatkan sanksi dari debata sendiri. Ketakutan akan hukuman Debata Mulajadi Na Bolon ini tertanam di hati orang Batak sehingga mereka tetap berupaya mempertahankan keberadaan upacara adat Batak.

Dalam struktur ini, eksistensi roh sembahan leluhur di alam gaib atau banua ginjang direfleksikan atau dipersonifikasikan di alam fisik (dalam kehidupan manusia) atau banua tonga di dalam ketiga unsur Dalihan Na Tolu yang membangun suatu upacara adat, yaitu Hulahula, Dongan Sabutuha, dan Boru. Kehadiran ketiga roh sembahan lelu hur dalam suatu upacara dinyatakan dalam kehadiran ketiga unsur Dalihan Na Tolu. Setiap upacara yang dilakukan harus dihadiri oleh ketiga unsur ini, kalau tidak, maka upacara adat tidak dapat dilaksanakan. Inilah ketetapan yang telah dibuat oleh Mulajadi Nabolon.

Jadi struktur Dalihan Na Tolu merupakan proyeksi dari eksistensi ketiga dewa sembahan leluhur Batak yang ada di dunia atas (banua ginjang). Manusia sebagai pelaku upacara adat adalah sarana yang dijadikan untuk memproyeksikan eksistensi dan peranan roh sembahannya. Selama upacara adat Batak dilakukan, ketiga dewa tersebut tetap mendapat tempat untuk diproyeksikan eksistensinya dalam kehidupan bangsa Batak, sekalipun mereka tercatat sebagai orang yang beragama Kristen.

Hal ini terjadi karena banyak orang Batak Kristen tidak pernah mengetahui arti rohani yang sesungguhnya dari struktur Dalihan Na Tolu itu, dan menganggap Dalihan Na Tolu itu hanya sebagai pengklasifikasian dari status dan peranan sosial dari anggota masyarakat saja. Kita tidak pernah me nyadari, bahwa melalui struktur itu iblis memanipulasi diri kita untuk kepentingan dirinya

Gambar 1

Sebuah tungku sering harus diberikan suatu ganjal untuk mengokohkan dan menahan beban di atasnya. Ganjal itu merupakan unsur yang melengkapi ketiga unsur Dalihan Na Tolu, dan disebut dengan Sihal-sihal. Pemahaman seperti itu disebut dalam istilah Batak “Dalihan Na Tolu, paopathon sihal-sihal”. Sihal-sihal melambangkan Debata Asiasi, yang di dalam religi Batak berperanan sebagai dewa yang membantu manusia di dalam berhubungan dengan dunia para dewa.

Peranan sihal-sihal diberikan kepada ale -ale (teman sekampung, dongan sahuta). DR.P.O.Tobing juga menjelaskan bahwa eksistensi keempat dewa Batak disimbolkan dalam “Suhi Ampang na Opat”, yaitu sebuah bakul yang bersegi empat, yang dibawa oleh pihak parboru untuk pihak paranak, dalam upacara pernikahan.

Hadirnya seluruh unsur Dalihan Na Tolu dan sihal-sihal merupakan lambang dari kehadiran para roh sembahan leluhur dalam acara itu. Jadi setiap orang atau kelompok yang hadir dalam suatu upacara adat sedang menggambarkan, atau memetakan eksistensi dari para roh sembahan leluhurnya pada masa penyembahan berhala. Hulahula memetakan eksistensi Batara Guru, Dongan Sabutuha memetakan eksistensi Mangala Sori, dan Boru memetakan eksistensi dari Mangala Bulan. Semuanya memetakan eksistensi dari Mulajadi Nabolon, sebagai dewa tertinggi orang Batak. Peta kemuliaan Mulajadi Nabolon di alam gaib (banua ginjang) dinyatakan dalam ketiga putranya. Peta kemuliaan Mulajadi Nabolon di dunia (banua tonga) dipetakan oleh orang-orang yang hadir dalam upacara adat, yaitu seluruh unsur pembentuk Dalihan Na Tolu.

Pada sisi lain, karena setiap orang memiliki ketiga status Dalihan Na Tolu, maka setiap pelaku upacara adat Batak merupakan “Peta Tiga Roh Sembahan Leluhur” atau “Peta Mulajadi Nabolon”. Waktu berperan sebagai hulahula dia memetakan Batara Guru, sebagai Dongan Sabutuha dia memetakan Mangala Sori, dan sebagai Boru dia memetakan Mangala Bulan. Sehingga sebagai suatu pribadi, dia sedang memetakan ketiga dewa tadi. Karena itu, setiap pelaku upacara agama Batak dibentuk secara rohani menjadi “Peta Tiga Dewa Batak” atau “Peta Mulajadi Nabolon” atau lebih tegas lagi “Peta Iblis”.

Upacara adat merupakan sarana yang diciptakan iblis sebagai jalan masuk untuk menguasai kehidupan orang Batak. Upacara adat merupakan landasan atau jalan masuk yang diciptakan oleh iblis (yang bernama Mulajadi Nabolon dengan tiga roh pembantunya) untuk secara sah (legitimated) hadir di masyarakat Batak. Kehadiran seluruh roh sembahan itu sangat penting artinya bagi leluhur Batak, dalam upaya mendapatkan berkat demi tercapainya segala yang dicita-citakannya, baik selama hidup di dunia, maupun setelah manusia itu meninggalkan dunia ini.

Mereka menyadari bahwa bantuan para roh sembahan itu sangat penting untuk mencapai segala tujuan hidupnya. Tanpa bantuan dari roh sembahan itu, sangat sulit bagi mereka untuk mencapai segala yang dicita-citakannya. Tanpa dukungan dari kekuatan ketiga roh sembahan itu, maka aktivitas upacara itu tidak memberikan manfaat apapun bagi pelakunya. Keberhasilan hidup orang Batak sangat tergantung kepada dukungan kuasa dan berkat dari para roh sembahannya. Manusia hanya dapat melihat kehadiran dari pelaku upacara adat itu saja, sementara kehadiran para roh sembahan itu tidak dapat dilihat dengan mata jasmani.

Kehadiran Batara Guru yang tidak dapat dilihat dinyatakan dengan kehadiran Hulahula yang dapat dilihat. Demikian juga halnya dengan kehadiran Mangala Sori dan Mangala Bulan yang tak terlihat dinyatakan dengan kehadiran Dongan Sabutuha dan Boru. Namun demikian, terlihat atau tidak, disadari ataupun tidak oleh pelakunya, dengan kehadiran seluruh unsur pelaku dalam upacara adat, maka jalan masuk bagi kehadiran para roh itu telah dibuka. Kehadiran para roh sembahan itulah yang akan menentukan kesuksesan suatu upacara adat dan menjamin perolehan segala keinginan si empunya pesta. Benarlah apa yang dikatakan oleh seorang ahli etnografi bernama E.M. Loeb (1935) bahwa kebiasaan adat yang dijumpai pada orang-orang Timur, merupakan “ghost sanctioned custom” (kebiasaan yang disahkan oleh roh-roh). Adat sebagai rangkuman tradisi adalah juga penjelmaan hakiki dari agama suku.

Setiap roh sembahan dalam religi atau agama apapun di dunia memiliki syarat-syarat tersendiri yang ditentukannya bagi kehadiran roh itu ditengah-tengah umatnya. Kehadiran ketiga unsur Dalihan Na Tolu merupakan prasyarat yang dibuat dan ditetapkan oleh iblis bagi kehadirannya dalam kehidupan religius bangsa Batak. Demikian juga, Injil memberitakan kita syarat-syarat khusus, yang berbeda dengan religi lain bagi perkenanan kehadiran TUHAN di dalam hidup umat-Nya.

Tiga roh sembahan Batak yang dipersonifikasikan dalam Dalihan Na Tolu merupakan putra Mulajadi Na Bolon. Ketiganya merupakan pancaran kemuliaan dari Mulajadi Nabolon. Karena itu, upacara adat Batak merupakan aktivitas religius yang dilakukan di dalam dan demi nama Mulajadi Nabolon, debata yang tertinggi. Karena itu, dalam setiap gondang dan tortor yang dimainkan, hal yang pertama yang dilakukan adalah menyampaikan (mangalu-aluhon) acara itu kepada Mulajadi Nabolon melalui pukulan gendang pargonsi. Pukulan gendang itu memiliki irama khusus dan berbeda dari pukulan gendang lainnya. Gerakan tortor yang pertamapun ditujukan kepada Mulajadi Nabolon dengan nama gerakan sombasomba.

Karena setiap pihak yang hadir dalam upacara adat menggambarkan eksistensi dari roh-roh sembahan leluhur, maka acara itu merupakan aktivitas religius yang membawa nama dan kemuliaan bagi para roh sembahan leluhur. Hulahula membawa nama Batara Guru, Dongan Sabutuha membawa nama Mangala Sori dan Boru membawa nama Mangala Bulan. Karena ketiganya merupakan pancaran dari kemuliaan Mulajadi Nabolon, maka otomatis upacara adat membawa nama dan kemuliaan bagi dewa tertinggi leluhur Batak, yaitu Debata Mulajadi Nabolon. Tanpa disadari, pelaku upacara adat merupakan alat Mulajadi Nabolon untuk memuliakan dirinya.

“Peta Mulajadi Nabolon” juga merupakan tanda rohani yang dibuat oleh iblis bagi kepemilikannya atas orang Batak dihadapan TUHAN. Tanda itu merupakan stempel atau meterai kepemilikan iblis atas setiap orang yang melakukan upacara adat. Peta iblis itu merupakan jalan masuk bagi kehadiran dan pengendaliannya atas hidup orang Batak. Tanda itu merupakan dasar rohani yang kokoh bagi iblis untuk mengklaim kepemilikannya atas orang Batak. Karena itu, kehadiran roh sembahan leluhur dalam hidup setiap orang Batak, merupakan pengambil -alihan posisi TUHAN dalam hidup manusia. Posisi TUHAN digantikan oleh kehadiran ketiga roh sembahan leluhur itu. Semuanya terjadi tanpa disadari oleh para leluhur maupun orang Kristen yang terlibat dalam upacara adat.

Alkitab menegaskan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus adalah milik TUHAN. Tanda meterai kepemilikan Tuhan diberikan dalam bentuk kehadiran Roh Kudus di dalam hatinya.

”Di dalam Dia (Yesus) kamu juga, karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Tuhan, untuk memuji kemuliaan-Nya”. (Efesus 1:13)

tanpa disadari, keterlibatan seseorang Kristen dalam upacara adat akan membuka ruang di hatinya bagi kehadiran para roh sembahan leluhur dahulu kala. Penerimaan akan kehadiran roh sembahan leluhur akan membuat Roh Kudus mengundurkan diri dari dalam hidup orang itu. Roh Kudus adalah roh yang lemah lembut yang tidak pernah mau memaksakan kehadiran dan keinginannya kepada manusia. Roh Kudus juga amat peka akan kekerasan hati manusia untuk tetap menerima kehadiran roh-roh lain di luar diri-Nya. Dia tidak pernah mau menerima sikap hati yang menduakan Tuhan di hati manusia. Kalau manusia bersikeras untuk melakukannya juga, walaupun sudah diperingatkan-Nya, maka Ia segera akan mengundurkan diri secara diam-diam, sama seperti kemuliaan TUHAN yang meninggalkan bait TUHAN di Yerusalem.

Kehadiran roh sembahan leluhur itulah yang akan mendorong seseorang dari dalam hatinya untuk kembali dan terus melakukan berbagai upacara adat lainnya. Dengan demikian terjadi penguatan ikatan rohani dengan roh itu. Penguatan ini akan menjadi suatu belenggu kuat iblis untuk mengendalikan pribadi dan tingkah laku orang Batak. Sehingga orang itu akan menjadi seseorang yang sangat memegang kuat adat Batak, dan sangat sulit bagi dia untuk keluar dari paradigma adat itu. Hanya kuasa anugerah Yesus yang mampu melepaskannya. Belenggu yang kuat inilah yang merupakan salah satu bentuk pertahanan iblis untuk mempertahankan “tahta kemuliaannya” di tengah-tengah bangsa Batak.

Kehadiran roh inilah yang akan membuat seseorang akan menjadi marah dan kalap ketika masalah upacara adat ini dibukakan. Tingkah laku dan ucapannya segera akan menjadi tidak terkontrol. Dari mulutnya akan keluar kalimat-kalimat yang memaki, menghina, mengutuk, kasar, dan kotor yang tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang Kristen. Kebencian orang itu akan menjadi sangat besar terhadap orang yang membukakan masalah upacara adat berdasarkan Injil Kristus yang murni. Mereka akan sangat marah dan dibenci terhadap orang-orang yang tidak mau lagi melakukan upacara adat.

Pengalaman penulis dan rekan-rekan yang berkomitmen kepada TUHAN untuk keluar dari upacara adat Batak menunjukkan betapa gampangnya orang-orang Batak yang terikat kuat dengan Mulajadi Nabolon menjadi marah, kalap dan mengucapkan kalimat kotor, ketika Firman Tuhan dibukakan yang berkaitan dengan adat Batak. Kemarahan itu berasal dari kemarahan roh yang ada di dalam dirinya yang rahasianya diungkapkan, kemudian memanfaatkan pribadi orang yang diikatnya itu untuk menyerang setiap musuhnya. Pikiran dan emosi orang itu telah dirasuki oleh roh-roh jahat sembahan leluhur, pemberi ilham adat Batak.

Dalam pernikahan, berapa banyak orang tua Batak yang mengeraskan hati untuk tidak hadir dalam pernikahan anaknya, karena tidak dilangsungkan upacara agama Batak. Kasih mereka akan Tuhan dan anaknya segera sirna, ketika adat itu diabaikan. Mereka mengabaikan tanggung jawab sebagai orang tua dihadapan Tuhan untuk membawa anak mereka ke hadapan Tuhan dan menjadi saksi pernikahan kudus itu. Tuhan tidak pernah menyuruh orang tua untuk menikahkan anaknya dengan cara lain di luar Firman-Nya, apalagi dengan upacara agama sembahan leluhur Batak. Mereka lebih mencintai adat Batak jauh melebihi Yesus Kristus. Padahal mereka tahu hukum Tuhan yang terutama:

“Kasihilah Tuhan, Bapamu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu”. (Matius 22:37)

Seorang Ibu menceritakan pengalamannya ketika seorang anak kakaknya meninggal dunia. Karena mau mentaati Firman Tuhan, dia dan keluarga kakaknya itu bersepakat untuk tidak menguburkan anaknya tadi secara adat, cukup dengan upacara gereja. Ibu itu merupakan seorang penatua dari salah sebuah gereja Batak yang masih melakukan sinkretisasi agama Batak dengan Injil. Akibatnya, kaum keluarga mereka yang ada di kampung itu menjadi marah, dan tidak mau ambil bagian dalam penguburan. Beberapa orang ada yang melempari rumah keluarga yang kemalangan itu dengan batu. Bahkan ibu itu dan seorang anggota keluarganya terpaksa harus meninggalkan kampung itu setelah penguburan, karena mendapatkan informasi ada orang (masih famili mereka) yang telah bersiap-siap untuk membunuh mereka. Tingkah laku mereka menjadi sama dengan sifat roh setan, yang menjadi sembahan leluhur itu. Karena saat itu, mereka telah dirasuki oleh Mulajadi Nabolon. Hal itu sangat tidak wajar, karena iblis sangat tidak ingin rahasianya dibongkar oleh Firman Tuhan. Iblis tidak rela tahta persembunyiannya dalam kehidupan orang Batak terbongkar. Dia akan mempertahankan tahta itu dengan sekuat tenaganya. Siapapun yang dikuasainya akan dimanfaatkan untuk menakut-nakuti, mengancam, memaksa dan bahkan mungkin untuk membunuh siapapun yang membuka rahasia persembunyiannya.

Sumber: Injil dan Adat Batak
karya James Silalahi

Facebook Comments

7 Responses to “Peta Roh Sembahan Leluhur”

  1. laurens hutagaol says:

    mungkin pemikiran ini ada benarnya, tetapi menurut saya jika semua orang batak berpikiran seperti anda, maka semua adat batak akan cepat lenyap. pahami dulu alkitab/ injil secara mendalam, dan minta bantuan roh kudus untuk membukakan pintu hati anda untuk tetap melestarikan budaya batak yang menurut anda benar. apabila ada yang tidak suai dgn kekristenan anda, mohon anda ajukan ke tempat anda akan melakukan adat batak. adat batak bukan untuk dikonfrontasi dgn injil, tetapi mana yang baik dan suai dgn injil harus dipelihara.

    demikian….

  2. terimakasih saya ucapkan buat bapa James, apakah saya bisa bergabung dengan komunnitas bapa dalam pelayanan. Kalau bisa, apakah saya minta nomor Hp bapa.nomor Hp ku 081 553 074 525

  3. eva sinaga says:

    Ulasan yg merupakan buahpikiran seorang James Silalahi sebagian adalah kebenaran Mitologi Batak. Yg bisa saya katakan:
    Terima kasih Tuhan Yesus, karena Engkau telah mengutus para penjala manusiaMu (penginjil)di tanah leluhurku Batak. Sehingga ku yakin yang teresap hinggga saat ini adalah ajaran tentang KEKUASAAN MUTLAKMU di dunia. Terima kasih Kau bukakan hati para leluhur kami akan pengertian Mulajadi Nabolon adalah Trinitas. Dan ku yakin hanya orang yang takut akan Tuhan dan memiliki kebijakan yang dari pada Tuhan yang dapat melihat dan merasakan kehadiran Tuhan dalam kebudayaannya….
    Amin”.

  4. saya menikmati bacaan di atas, sehingga saya bertambah wawasan. Namun saya memiliki pandangan yang berbeda Saya bertanya, mengapa tanggal 25 Desember masih dijadikan simbol sebagai hari lahirnya Tuhan Yesus Kristus?? Sesungguhnya tanggal itu adalah tanggal untuk ritual kaum pagan dalam menyembah dewa-dewanya dan belum ada bukti yang nyata mengatakan itu tanggal kelahiran Tuhan kita. Konteks ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus melalui pengilhaman kepada seluruh umat manusia, menghargai nilai-nilai dan budaya yang berkembang pada umatnya. Tetapi dilain sisi, Tuhan mengetahui betul hati setiap umat yang sungguh menjadi pengikutnya (kristen). Ayat yang memperkuat adalah Tentang Membayar Pajak:
    Lukas 20: 24-25
    “Tunjukkanlah kepada-Ku suatu dinar; gambar dan tulisan siapakah ada padanya?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” (24) “Coba perlihatkan kepada-Ku sekeping uang perak. Gambar dan nama siapakah ini?” “Kaisar!” jawab mereka.
    (25) Lalu kata Yesus kepada mereka: “Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!”

    Ayat ini menggambarkan bahwa Tuhan Yesus menghargai sistem atau nilai pemerintahan yang berlaku saat itu. Di sisi yang lain, Tuhan juga mengharapkan umat manusia mememelihara hubungan dengan Tuhan sendiri.

  5. Tulus Siringoringo says:

    Ulasan yang sangat menarik Bapak James.

    Jika ulasan tersebut dikaitkan dengan adat batak sebelum agama kristen masuk ke tanah batak oleh Nomensen, maka saya sependapat dengan Amang. karena adat batak pada masa itu masih menggunakan roh-roh.

    TETAPI , jika adat batak setelah kristen masuk, saya tidak sependapat. Karena aktivitas seperti pernikahan, pemakaman, yang dilakukan oleh kita orang BATAK yang menganut agama kristen didasari oleh pengakuan kita akan YESUS KRISTUS.

    ADAT hanya suatu seremonial untuk menjaga identitas/kekayaan budaya suku batak.

    JIKA Amang James meyakini bahwa adat batak adalah kuasa Iblis Mulajadi Nabolon, maka saya sarankan ada baiknya Amang James lepas juga marganya, dan seluruh adat Batak. (Jangan JADI ORANG BATAK).

    TERIMA KASIH

  6. Yang menjadi pertanyaan dan belum terjawab bagi saya adalah; Mengapa Batak dan Budaya Batak (Habatakon) harus dinilai dari ke-Kristen-an, atau agama lain? Apa tidak sebaliknya ke-Kristen-an yang harus dinilai dari parameter Habatakon? Apakah penampakan2 Malaikat bukan bentuk lain dari Sumangot? Apakah penampakan2 setelah kematian yg dikisahkan di buku2 suci bukan wujud dari begu? Apakah persembahan bakaran di mesbah bukan wujud dari pemanggilan roh? Bagaimana tentang Sikkem, apakah ini bukan kawasan sombaon, penyembahan setan? Bagaimana dengan percikan darah hewan kurban disekitar rumah tuhan, termasuk jambar2 untuk imam dan majelis, bukan kah ini ritual pagan? Bagaimana kalau persembahan di kebaktian (uang) saya gantikan dengan sirih dan pangir, apakah menjadi tidak sah? bagaimana bila hanya itu yang saya punya lalu saya jual menjadi uang dan saya persembahkan dalam kebaktian, menjadi sah? Bagaimana bila saya menyamaratakan konsep Debata Natolu, Trimurti, Trinitas adalah peta dari kerajaan iblis, adakah yang setuju? Bila marga menjadi bagian utama dari Dalihan Natolu, dan saya membuang marga saya, apakah saya masih layak ikut dalam siklus Dalihan Natolu? sebaliknya bila saya anggap Dalihan Natolu sebagai wujud pelaksanaan ritual roh leluhur (iblis) apakah saya masih mau pakai marga sebagai identitas diri? Dalam sejarahnya, Agama hanyalah slogan2 yang bertujuan untuk pembinasaan bagi yang tidak se-faham. Apakah bila ada manusia yang tidak se-faham dengan satu ajaran, lantas dia bukan bagian dari ciptaan (Tuhan)? atau ada manusia yang ciptaan Iblis? manusia mana itu, manusia Batak kah, yang pakai marga kah?

  7. Mungkin benar apa yg sdr. Manik sampaikan, namun mengenai hal diatas perlu dikaji lebih lanjut lagi. Penelitian serius dibutuhkan untuk itu menyangkut penelitian secara ilmiah dimana metodologinya benar secara akademis. Buku yang menjadi acuan Sdr. Manik bisa dijadikan referensi meneliti “Dunia Roh”, namun tidak bisa menyimpulkan bahwa adat batak yang dilakukan sekarang merupakan representasi dari roh nenek moyang. Untuk yang ini, penelitian dibutuhkan.

    Sdr. Manik belum begitu kritis mengambil intisari dari buku DR.Philip.O.Tobing dalam bukuny: “The Structure of the Toba Batak Belief in the High God” (1963:149). Memang betul beliau menyimpulkan bahwa Batara Guru, Bala (Mangala) Sori, dan Bala (Mangala) Bulan adalah representasi dari masing-masing Hulahula, Dongan Sabutuha dan Boru. Namun ini adalah wujud kepercayaan animisme bangsa batak tempo dulu. Motivasi beliau menulis buku itu adalah untuk menggambarkan konteks bagaimana masyarakat batak mengelola kehidupan adat tadisionalnya temp dulu, dan bukan menyimpulkan bahwa “adat yang dilakukan sekarang adalah wujud representasi ato perpanjangan tangan dari roh nenek moyang”. Perhatikan motivasi DR.Philip.O.Tobing dalam bukuny tersebut, apakah disitu methodologinya digunakan untuk menyingkap “DUNIA ROH” dan kaitannya dengan adat batak tempo sekarang?

    Begitu juga dengan buku rujukan lainnya, perhatikan baik-baik apakah methodologinya sudah benar dalam menyimpulkan adat batak sekarang sebagai reprresentasi Roh nenek moyang. Kebanyakan buku adalah karya reflektif personal, bukanlah rujukan referensi akademis diantaranya “Dunia Roh by Daud Tonny”..

    Kenapa saya sampaikan begitu? karena dalam buku tersebut tidak didiskusikan karya penelitian orang lain dalam dunia roh. Olehh karena itu, buku tersebut lemah secara akademis.

    Sdr. Manik dapat menngunakan buku Tobing tersebut untuk penelitian lebih lanjut, dna bukan untuk menyimpulkan adat batak sekarang adalah representasi roh nenek moyang. Krena kenapa? secara akademis dan ilmiah argument Sdr. Manik diatas lemah. Secara Alkitabiah sangatlah baik. Ini saya berikan link yang dapat Sdr. Manik pelajari dalam meneliti “dunia Roh” lebih lanjut..

    http://www.bataktextiles.com

    Semoga Tuhan memberkati,

    Salam damai dalam Kristus,

    Ferdinand Hutabarat

Leave a Reply