Budaya Daerah Indonesia yang sangat kaya dan beragam menjadi akar pembentukan budaya nasional dan ini menjelaskan kedudukan Indonesia sebagai bangsa yang mengikat diri dalam kebhinekaan.
Seni dan budaya daerah juga merupakan kearifan lokal (local genius) yang memberi identitas Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat.
Salah satu dari kesenian daerah tersebut adalah GONDANG. Berasal dari Tapanuli dan menjadi kesenian budaya orang Batak.
Gondang secara harfiah memiliki pengertian seperangkat alat musik dan Uning-uningan/Ensambel musik.
Instrumen dalam uning-uningan terdiri atas: Instrument musik tiup (aerophone) seperti sarune, sulim, sordam, tulila, tataloat, salung dan along-along.
Instrumen musik petik (chordophone) seperti hasapi, tanggetong atau mengmong dan sidedeng.
Instrumen musik pukul (idiophone) seperti garantung, saga-saga, jenggong dan hesek.
Instrumen musik tabuh yang berasal dari kulit binatang (membrano-phone) seperti gardap atau tagading.

Yayasan Pengembangan Uning-uningan
Melalaui tokoh musik terkenal Nortier Simanungkalitbersama tokoh masyarakat Batak pada 1988 setelah merlalui penelitian panjang di seluruh pelosok Tapanuli, tempat suku Batak dikembangkanlah seperangkat Ogung (Gong) yang mampu mengiringi seluruh repertoar musik, yang bukan hanya sekedar ritme tetapi mampu menjadi fungsi akor/bass.
Untuk mengembangkan kesenian ini didirikanlah yayasan pengembangan Uning-uningan (YPU).
Pendirinya adalah Nortier Simanungkalit, Lidang Panggabean, (ketua umum) Tigor Simanjuntak, H. Simanjuntak serta Edy Panggabean (sekretaris umum).
Sejak 1988 YPU beberapa kali menggelar acara diantaranya; Orkes Simphony Gondang Batak di Ballroom Hotel Indonesia. Tahun 1989 dan 1991 menggelar acara serupa di Balai Sidang.
Kemudian berturut-turut tahun 1998, 1999, 2000, 2005 dan 2009 mengisi acara HUT RI di Istana Negara.
Ogung dan Istana
Tahun ini YPU kembali mengisi acara HUT RI ke-64 di Istana Negara dengan menampilkan ilustrasi musik Uning-uningan.
Saat galdi bersih Presiden SBY menyempatkan diri mendengarkan musik Ogung ini.
Sebagai ilustrasi musik pembuka dari uning-uningan ditampilkan beberapa lagu seperti; Si Bunga Jambu, Si Palti Raja, Piknik-piknik, Tumba Sidikalang, Sulaman Barat, Tumba Sisir, Tortor dasar dan lain-lain.
Ritme dan dinamika Uning-uningan mampu membuat warakawuri dan undangan mengetuk-ngetukan jemari sembari mengangguk-anggukan kepala.

Pada Kolaborasi musik tradisional Uning-uningan dengan musik modern, disenandungkanlah lagu “Butet” (lagu perjuangan etnik Batak) kemudian lagu “Sepsang Mata Bola” (lagu perjuangan etnik Jawa) oleh Tetty Manurung.
Kedua lagu ini mendapat applaus meriah dari hadirin. Beberapa lagu Pakpak seperti “Cikalalepompong” yang dinyanyikan Trio RNB dan lagu dari Simalungun “Tading Ma Ham” juga mendapat sambutan luar biasa.
Sebagai sajian terakhir YPU membawakan lagu “Rinduku Padamu” ciptaan SBY yang disambut meriah para undangan.
Facebook Comments
3 Responses to “Repertoar Musik Batak di Istana Negara”







empat kata untuk orang batak We are the best…
saya bangga jadi orang batak, dari dulu, sekarang sampai akhir hayat..
hidup halak hita…
http://agusthutabarat.wordpress.com
sukse selalu
Sangat bagus sekali